GKJW Pro

GKJW Pro
Majelis Jemaat GKJWPro

Sabtu, 18 Agustus 2012

IDENTITAS POSKOLONIAL “GKJW” DI JAWA TIMUR



IDENTITAS POSKOLONIAL “GKJW” DI JAWA TIMUR

(Studi Poskolonial Terhadap Markus 7:24-30 dalam Konteks Greja Kristen Jawi Wetan)[1]
Oleh: Imanuel Teguh Harisantoso

Pengalaman: sebuah pengantar

Kegiatan bulan Kesaksian dan Pelayanan (kespel) di GKJW Jemaat Sidomulyo[2] tahun 2007 merupakan pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Kurang lebih satu bulan sebelum kegiatan kespel dimulai, saya melontarkan gagasan kendurenan di sawah dalam khotbah minggu dengan sebuah pertanyaan? Pernahkah warga jemaat sebelum mengawali kegiatan mengolah sawah, menanam dan sesudah musim tanam, dilanjutkan pada masa panen, berdoa kepada Tuhan? Dengan kata lain, slametan di sawah? Menyitir ungkapan Paulus kepada jemaat di Korintus, “Jemaat yang mengolah sawah, menanam dan mengaliri air ke lahan, tetapi Tuhan-lah yang memberi pertumbuhan, Tuhan-lah yang pada akhirnya memberikan buah dan hasil panen yang melimpah” (band. I Kor. 3:6-9). Teriknya panas matahari tidak membakar, dan derasnya air hujan adalah campur tangan Tuhan, berkat dan anugerahNya dalam memenuhi kebutuhan hidup petani dan tanaman yang ditanamnya. Karenanya sudah sepatutnya, jika para petani bersyukur kepada Sang Penguasa jagad di sekitar lokasi tanamannya.
Apa yang melatarbelakangi munculnya pertanyaan diatas? Jemaat Sidomulyo adalah Jemaat agraris dan berdasarkan pengalaman (baca: observasi) selama melayani (sejak tahun 2005) disana, masayarakatnya sangat akrab dengan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan sebagai masyarakat agraris Jawa. Kebiasaan yang berhubungan dengan cerita rakyat Dewi Sri dan Sadono, dengan membawa sesaji-sesaji tertentu ke sawah; kendurenan atau slametan mengenang kematian keluarga dari tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, sampai pada peringatan tahun-an (tahun pertama, kedua dan ketiga) menjadi sesuatu yang lazim terjadi. Tetapi sangat disayangkan, karena pengalaman-pengalaman tradisional seperti itu sudah sulit “diidentifikasi sebagai pengalaman yang khas masyarakat Jawa agraris di Jemaat Sidomulyo” pada era sekarang ini.  Masyarakat Jawa yang sudah menjadi Kristen mengalami “ketakutan” untuk melakukan praktik-praktik tradisi seperti diatas, karena pelaku tradisi semacam itu dihadapan (sebagian besar) pemeluk agama import, Kristen,  mendapatkan “cap” atau “label”  kafir dan tidak ngristeni, meskipun pelaku praktik tradisi tersebut adalah orang Kristen dalam Jemaat yang sama.
Dari sini secara tidak langsung muncul apa yang disebut konstruksi identitas, pengkategorian dan pengelompokan “menjadi” antara Kristen dan tidak Kristen; antara yang ngristeni dan yang tidak ngristeni. Disatu sisi kelompok orang Kristen yang meninggalkan tradisi leluhurnya (Jawa), menjadi Kristen-Barat, dan disisi lain, komunitas Kristen yang setia melakukan praktik-praktik tradisi nenek moyang. Bagi kelompok Kristen yang tidak setuju untuk tetap memberlakukan tradisi leluhur, menganggap apa yang dilakukan oleh komunitas yang mempertahankan tradisi dan kebiasaan sebagai aktivitas nguja setan (memuja setan), gugon tuhon (mempercayai sesuatu yang takhayul) “yang layak untuk dicap kafir, pantas dihancurkan dan diganti.”[3] Sedang pihak yang lain menganggap, apa yang dilakukan dengan budaya adalah sebuah perwujudan ungkapan imannya terhadap sesuatu yang disebut Tuhan, dalam hal ini adalah Tuhan Yesus. 
Dalam konteks seperti diatas, mengingatkan saya pada peristiwa “percakapan Yesus dan Perempuan Siro-Fenisia” dalam teks Alkitab, Markus 7:24-30. Sangat tepat pendekatan poskolonial digunakan dalam menganalisa teks-teks Alkitab, mengingat teks Alkitab dalam banyak tempat bernuasa hegemonik (sugirtharajah). Perbincangan Yesus dan perempuan Siro-Fenisia, terkesan merupakan pembicaraan dua ideologi keagamaan dan sekaligus representatif dari dua bangsa yang sedang berada dalam konflik dominasi. Konflik identitas sebagai bangsa yang terpilih (baca: dominan = Barat?) dan bangsa kafir (inferior = third world?) yang membutuhkan “pertolongan”, “pengakuan” dan “pembebasan” dari ketidakberdayaanya.
Penyebutan kata “Perempuan” dan “Siro-Fenisia” (Matius: Kanaan) dengan tidak hormat dalam teks, menurut saya adalah gaya kolonial dan superioritas yang tinggi. Dan perempuan yang sedang berbicara dengan Yesus seolah mendapatkan identitas diri dari pelabelan (baca: stereotype) yang diberikan oleh mereka yang dominan.
Selanjutnya (sebagaimana Said katakan), keberadaan Yesus mendapatkan makna justru karena disitu terdapat perempuan Sir-Fenisia yang berada dalam posisi inferior. Pertanyaan yang sesuai dengan topik tulisan ini adalah, bagaimana identitas poskolonial “GKJW” di Jawa Timur dalam kaitannya dengan teks Markus 7:24-30?



Hermeneutik Poskolonial
Sebelum menguraikan daya gugat studi ini, saya mengawali bahasan ini dengan mengutip dua batasan yang digunakan dalam pendekatan semacam ini:
Pos-kolonial meliputi imperial seluruh budaya (all to cultural) melalui proses imperialisme yang dilakukan Eropa. Hal ini sangat berkaitan dengan kritik antar budaya baru yang sudah muncul dalam beberapa tahun terakhir dan wacana tersebut dilembagakan (...) Pos-kolonialisme adalah sebuah perlawanan (resistence) kepada kolonialisme, ideologi-ideologi kolonialis, dan warisan-warisan kolonialis dalam berbagai bentuk di zaman ini.[4]

Pos-kolonialisme sekarang digunakan secara luas dan merupakan cara pandang yang berbeda, dan analisis terhadap penaklukan-penaklukan oleh Eropa, berbagai institusi kolonialis Eropa, pemutusan operasi penguasa, konstruksi subjek secara halus dalam wacana kolonial dan perlawanan subjek, dan yang paling penting merupakan respon yang berbeda dari serangan-serangan kolonialis baik dalam berbagai aturan maupun  pasca kebebasan bangsa atau komunitas. Studi ini juga ditujukan pada produksi kultural komunitas, dan secara luas digunakan pada historical, political, sociological and economic analisys, sebagai disiplin yang berkaitan dengan dampak imperialisme eropa atas masyarakat dunia.[5]

Teori poskolonial menggunakan situasi kolonisasi untuk menyadarkan pembaca Alkitab sebagaimana berada dalam situasi terjajah, dan karenanya berupaya untuk melakukan negosiasi kearah pembebasan dan persamaan. Dibawah studi poskolonial, hermeneutik poskolonial membawa sebuah penyadaran diri bahwa Alkitab yang saya baca, tafsirkan dan khotbahkan kepada orang lain sangat dipengaruhi oleh konteks kekuasaan sosial-politik dan konstruksi identitas (baca: pelabelan). Teks Alkitab tidak jauh dari retorika sastra dan alat imperialisme. Tetapi tidak dapat dipungkiri, disisi lain teks Alkitab juga memproklamirkan suara-suara kenabian. Mengisahkan pembebasan dari situasi kolonial yang ber-visi keadilan sebagai tantangan ketidakadilan.
Sebagai pendekatan yang menitikberatkan pada aspek kekinian, yang menekankan konteks aktual dimana penafsir hidup; yang memiliki dimensi pembebasan, dan kultural (Sugirtharajah); sebuah metode yang menantang hegemoni Barat (Lozada); mengedepankan Alkitab sebagai yang memiliki otoritas (Samartha), otoritas Alkitab yang mampu mendampingi dan menjawab permasalahan-permasalahan dalam konteks (baca: realitas) penafsir, ini sangat tepat untuk diperhadapkan dalam konteks Indonesia, Jawa secara khusus, termasuk pergumulan gereja didalamnya. Mengutip Levison yang menghubungkan konteks pembaca Alkitab dengan proses hermeneutik. Ia mengaitkan dengan realita utama di Asia. Pertama, teologi Asia harus mulai dari realita bangsa Asia; Alkitab berfungsi sebagai cermin kondisi biografi sosial-masyarakat. Kedua, beberapa teologi Asia mulai dengan realita sosial, misal perhatianya terhadap kemiskinan, ekologi,  seperti yang dikembangkan dalam teologi minjung Korea sebagai refleksi sosial. Ketiga, memberikan perhatian kepada realita ekonomi[6] yang terjadi di Asia sampai hari ini.
Studi poskolonial yang memberikan perhatian kepada “form of ideology criticism, which considers the socio-political context” dan pengebirian suara “yang lain” sebagai strategi kolonial, juga dapat digunakan untuk menganalisa secara serius isu-isu nasional seperti isu ras, jender, kelas sosial, suku, kewarganegaraan dan konstruksi kekuasaan politik  dalam bingkai sosial dan geografi.
Dalam pengertian semacam ini, meminjam istilah Freire dalam pendidikan, studi poskolonial membawa kesadaran diri manusia bahwa ia (pernah) berada dalam jalinan kolonialisme dan (sekarang) masih terkolonialisasi (poskolonialisasi) dengan gaya baru. Sadar bahwa dulu pernah menjadi bangsa jajahan oleh bangsa Eropa dan sekarang sulit (menghindari kata tidak) menghindari hegemoni ekonomi dunia (Barat). Poskolonial memberikan pengharapan baru, membebaskan setiap manusia yang berada dalam ketertindasan. Menggugah semangat bahwa Barat tidak akan ada artinya tanpa bangsa Timur. Barat memiliki arti karena keberadaan bangsa Timur (Said). Dari sini dapat dikembangkan, Asia, negara bekas koloni Barat, yang secara politis telah memperoleh kemerdekaan, harus betul-betul merasakan kemerdekaannya, tidak hanya secara politis, tetapi juga kultural dan ekonomi.

Mencari Akar Sejarah: Pengalaman Emde dan Coolen di Jawa Timur
Johanes Emde dan Conrad Lauren Coolen adalah dua corak yang bertolak belakang dalam mewartakan Kekristenan di Jawa Timur.[7]  Emde memberitakan Injil kepada orang-orang Jawa dan kemudian memberikan ketetapan “Kristen” lain diatas Dasa Titah dalam Perjanjian Lama kepada mereka, supaya orang-orang jawa yang sudah menerima tanda baptis, menjadi Kristen harus meninggalkan seluruh atribut ke-Jawa-annya:
1.      Kamu harus memangkas pendek rambutmu.
2.      Kamu harus melepas kain-kepala manakala berada di gereja.
3.      Janganlah kamu mendengarkan musik gamelan
4.      Janganlah kamu menghadiri pertunjukan wayang.
5.      Janganlah kamu disunat.
6.      Janganlah kamu menghadiri slametan.
7.      Janganlah kamu membaca sastra Jawa.
8.      Janganlah kamu merawat makam para nenek moyangmu.
9.      Janganlah kamu menghiasi makammu dengan bunga atau pohon-pohonan.
10.  Kamu harus melarang anak-anakmu bermain permainan kafir.[8] (Macanan, cirak, cakarwok  dan lintrik yang dipadankan dengan domino, permainan jengket dan main kartu).
Akibatnya, orang Jawa-Kristen bergaya hidup “ala Belanda”, rambut dipangkas pendek dan jarang memakai sarung, meskipun pola hidup yang demikian itu menimbulkan keresahan dari sesama Jawa-nya. “Perintah” Barat – Kristen (baca: Emde) ini, dikemudian hari menimbulkan “identitas baru” bagi masyarakat Jawa Timur yang sudah menerima tanda baptis, menjadi Kristen. Mereka dipanggil dengan sebutan “Londo ireng” (Belanda hitam) atau “Londo tanpa sepatu” (Belanda tidak bersepatu).
Apa yang dilakukan oleh Emde jauh dari bayangan Coolen, ia mengajarkan kepada orang-orang Jawa di Ngoro sangat kejawen. Ajarannya sangat kental dengan tradisi dan budaya Jawa. (Lepas dari apapun yang melatar belakangi ajarannya), Coolen tidak  memperbolehkan orang Jawa yang sudah menerima pembelajaran Kristen untuk “menjadi Belanda”, dibaptis, berambut pendek, apalagi berbusana dan bergaya ala Eropa. Haram baginya. Dalam pengajarannya Coolen juga sangat menekankan tradisi dan budaya konteks setempat, wiridan, tembang dan wayang adalah hal-hal yang akrab dengan kehidupannya. Pendek kata Coolen sebagai seorang Indo-Eropa lebih njawani (bersikap dan bergaya hidup sebagaimana orang Jawa hidup) dalam setiap pengajarannya.
Pengalaman tradisi, pengajaran yang kemudian hari berkembang menjadi “teologi” yang tumbuh di GKJW memunculkan polemik tersendiri. Emde melakukan pendekatan Alkitab berdasarkan pengalaman ke-Eropa-annya, sedang Coolen membaca Alkitab dari sudut pandang dirinya yang tumbuh dan dibesarkan dalam konteks masyarakat Jawa Mataram. Hal ini menghadirkan polarisasi yang saya sebut trikotomi: Eropa (Kristen-Emde), Jawa (Coolen) dan Palestina (Alkitab). Dampaknya sangat terasa sampai sekarang, dimana pergulatan ketiganya tumpang tindih, dan bahkan saling mendominasi.
Dominasi semakin nampak ketika pengambilaalihan pewartaan Injil di Jawa Timur oleh lembaga zending yang notabene sangat berkepentingan dan mimikri dengan cara-cara kolonialis. Hal ini berlanjut dalam struktural gereja, ada pembagian: Pendeta zending dan Pendeta pribumi; warga asing (Eropa) sebagai anggota jemaat istimewa dibandinkan dengan warga jemaat biasa (Jawa).

“Yesus” dan “Perempuan Siro-Fenisia”: Konstruksi Identitas
Teks yang diberi judul oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) perempuan Siro-Fenisia yang percaya (Mark. 7:24-30) menggambarkan sebuah cibiran konstruksi identitas diantara Yesus dan seorang ibu. Konstruksi identitas tersebut semakin nampak, ketika banyak orang mengetahui bahwa Yesus  adalah seorang Yahudi dan ibu (tadi) berasal dari Yunani bangsa Siro-Fenisia.[9] Hubungan dua insan yang berbeda warga negara dan latar belakang kebudayaan masa lalu memunculkan superioritas dan inferioritas identitas sejak dulu sampai sekarang yang menjadi ciri hubungan bangsa yang mengkolonisasi dan terkolonisasi. Kolonialisme seringkali berupaya membentuk budaya dan identitas pribumi berdasarkan konstruksi budaya kolonial.
Yesus berkata kepada perempuan itu, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”  Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” (ayat 27-28, yang bergaris bawah tambahan penulis). Konstruksi identitas penguasa (Yesus) terhadap si ibu (yang dikuasai) akan semakin jelas jika kita membandingkan teks diatas dengan tulisan Matius (15:21-28), “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”
“Roti yang dijatuhkan anak-anak” (Markus), “roti yang jatuh dari meja tuannya” (Matius), “dilemparkan kepada anjing[10]” dan “perempuan Yunani bangsa Siro-Fenisia” adalah upaya formula (membentuk) identitas diri yang dilakukan oleh yang superior kepada yang inferior. Bahasa sarkasme, “sudah disebut perempuan, ditambah anjing lagi.” Panggilan “anjing” kepada perempuan Yunani berbangsa Siro-Fenisia adalah upaya untuk menjadikan perempuan tersebut “ke-Yahudi-Yahudi-an”[11] yang merefleksikan representasi sebuah bangsa yang mendominasi kebudayaan bangsa lain. Sebagai konsekuensi, otentisitas identitas perempuan Siro-Fenisia terdistorsi, mengalami perubahan dan karenanya melahirkan hibriditas identitas yang ambigu. Ibu Siro-Fenisia (syrophoinikissa) ini tidak lagi berada dalam otentisitas identitas orang Yunani dari daerah Tirus, tetapi sebuah identitas yang sudah terkontaminasi dengan latar belakang negara Romawi[12] dan kebudayaan Yahudi. Dalam posisi seperti ini, identitas perempuan Siro-Fenisia menjadi in between space yang membentuk hibriditas identitasnya.  
Penempatan istilah ‘hibrid’ menurut Homi Bhabha (1998) merupakan metafora untuk menggambarkan bergabungnya dua jenis (bentuk) yang memunculkan sifat-sifat tertentu dari masing-masing bentuk sementara sekaligus juga meniadakan sifat-sifat tertentu yang dimiliki keduanya. Bhabha menambahkan bahwa poskolonialitas bukan hanya menciptakan budaya atau praktek hibriditas, tetapi sekaligus menciptakan bentuk-bentuk resistensi dan negosiasi baru sekelompok orang di dalam relasi sosial dan politik mereka.[13] Inilah yang terjadi dengan perempuan Siro-Fenisia. Sebagai pribadi dan sekaligus bangsa yang inferior, disatu sisi ia menerima formula (pembentukan), konstruksi identitas dan pelabelan citra yang ditanamkan oleh oleh Yesus yang mewakili Penjajah, tetapi sekaligus ia melakukan resistensi dan perlawanan terhadap penguasa Romawi dan Yahudi. Artinya, ia berusaha untuk menghindar dari konstruksi identitas yang ditanamkan kepadanya. Dan saya saya rasa dalam proses pembentukan identitas, akhirnya ia mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang dikehendakinya (ayat29-30), meskipun ia juga tidak dapat menghindar dari pembentukan citra diri tersebut. Ketika berjumpa dengan Yesus, si ibu ini tidak dapat lepas dari konstruksi  identitas “di-Yahudi-kan” (anjing) kepadanya. Tetapi ketika ia “kembali” dalam kehidupan yang “terbebas” dari pengaruh Yesus (baca: Yahudi dan Romawi) ia menjadi perempuan Siro-Fenisia. Konstruksi identitas sebagai “perempuan Yahudi” dan “perempuan Siro-Fenisa” melingkar dan melanggeng dalam diri si ibu yang melakukan translokasi Yahudi-Siro-Fenisia.
Yesus dan perempuan Siro-Fenisia dalam cerita yang dikisahkan oleh Penulis Markus (juga oleh Matius) pada dasarnya menegaskan perbedaan identitas mereka. Yesus direfleksikan sebagai representasi bangsa superior, tuan (Matius), umat pilihan Allah dan bangsa yang dipilih untuk menyelamatkan perempuan Siro-Fenisia, sebagai representasi kaum terjajah, bangsa yang harus di-Yahudi-kan (baca: selamatkan) dan komunitas hamba yang tereksploitasi oleh hegemoni Yudais.
Tirus (juga Sidon) dalam karakter perempuan Siro-Fenisia terus ter-steretype dan mendapatkan citra sebagai daerah yang terjajah mulai dari kejayaan Mesir sampai pada pengaruh Iskandar Agung, meskipun ia mendapatkan otonomi untuk mengelola daerahnya sendiri. Kafir dan patut untuk diselamatkan adalah konstruksi identitas religius yang ditanamkan. Ironisnya, bangsa terjajah, Tirus dan perempuan Siro-Fenisia tersebut menerima konstruksi identitas yang ditanamkan kepadanya. Dengan mencitrakan sebagai hamba, kaum rendahan dan kafir, Yesus melegitimasi Tirus dan segenap rakyatnya untuk berupaya terus-menerus mencari keselamatan, meskipun sebenarnya semua itu dilakukan untuk kepentingan kolonial.

Identitas Poskolonial Antara Masa Coolen-Emde dan GKJW

Sebagaimana teks sastra Markus (juga Matius) yang mengisahkan percakapan “Yesus” dan “perempuan Siro-Fenisia”, kisah misionaris (Indo) Barat, Coolen dan Emde di Ngoro dan Surabaya Jawa Timur menggambarkan dialektika antara yang superior dan inferior. Yahudi sebagai pusat kegiatan religius dan kebudayaan Yudaisme berpadanan dengan Belanda yang menjadi pusat kolonialis, yang mengeksploitasi Indonesia dengan janji-janji keselamatan demi kejayaan misionaris Eropa.

Tokoh misionaris Coolen dan Emde yang meng-Kristen-kan (baca: mem-Barat-kan) orang-orang Jawa di Indonesia adalah representasi dari upaya kolonial untuk menjadikan orang Jawa sebagai ke-Belanda-Belanda-an. Seperti tokoh Yesus dalam cerita “perempuan Siro-Fenisia yang percaya” adalah upaya untuk meng-konstruksi identitas dan citra masyarakat Jawa. Coolen dan Emde (demikian juga misionaris Barat lainnya) melakkan pengkristenan dengan kuasa “untuk memberikan nama-nama kepada orang-orang Kristen baru dan untuk mengendalikan mereka, kuasa untuk mengubah mereka dan mengasingkan mereka dari akar budayanya.”[14] Nama Jawa Ditotaruno harus berganti dengan Abisai Ditotaruno, kemudian nama Tosari harus dikonstruksi menjadi Paulus Tosari. Apa hubungan antara Abisai dan Ditotaruno atau Paulus dengan Tosari? Nama-nama tersebut, tentunya tidak ada kaitannya satu dengan yang lain.
jelas, kini nama Ditotaruno dan Tosari sudah terkonstruksi menjadi Abisai dan paulus, yang bukan siapa-siapa bagi mereka. Ditotaruno dan Tosari menjadi terasing dari budaya Jawa yang sudah membentuk dirinya sejak lahir. Dari sini, muncul stereotype yang ditanamkan oleh para misionaris, “kami mempunyai nama-nama yang lebih baik untuk kalian – nama-nama Kristen. Mulai sekarang kalian akan dipanggil Abisai, Paulus.”[15]
Dialektika wacana poskolonial semakin menarik ketika upaya peng-Kristen-an yang dilakukan Coolen dan Emde ditindaklanjuti dan dikembangkan oleh badan zending NZG (Nederlandsch Zendeling Genootschap), lembaga misi Belanda yang didirikan tahun 1797. Ini merupakan awang pembimbingan (baca: penguasaan) zending yang akan berlangsung terus sampai lahirnya GKJW tahun 1931. Sebagai bagian dari sistem imperialisme, misionaris dengan NZG-nya juga mengeksploitasi dan mereduksi sistem kepercayaan dan budaya Jawa. Mereka tidak membunuh masyarakat Jawa dengan senjata, tetapi menancapkan menara gedung gereja dengan gaya arsitektur eropa, yang secara perlahan tetapi pasti “membunuh” arsitektur dan gaya bangunan Jawa, didalamnya termasuk sistem keyakinan dan kepercayaannya.
Konstruksi identitas Jawa menjadi ke-Barat-Barat-an dalam bentuk arsitektur bangunan gereja menjadi bukti yang tidak terbantahkan hibriditas orang-orang Jawa Kristen di Jawa Timur dalam “bangunan GKJW”. Sayang, GKJW tidak dapat melapaskan diri dari bayang-bayang dominasi NZG, yang berganti rupa dalam bentuk gereja mitra di Belanda dan globalisasi, meskipun ada upaya resist terhadap dominasi asing. Resistensi GKJW tergambar dari sikap Coolen ketika mengajarkan kekristenan kepada masyarakat di Ngoro Jawa Timur, dengan tetap menghargai dan membiarkan tradisi dan budaya Jawa (wayang, tembang dan seni Jawa yang lain) bersanding dengan kebiasaan Kristen-Barat.
Pengalaman Coolen – GKJW – memberikan pengharapan, orang-orang Jawa (Timur), Indonesia akan bisa sejajar dengan Belanda. Dan lepas dari maksud terselubung NZG atas berdirinya GKJW, pengakuan berdirinya Greja Kristen Jawi Wetan di Jawa Timur tahun 1931 adalah bukti mimpi yang mulai berwujud dalam kemandirian Gereja Jawa di Jawa Timur.

Kesimpulan

Naskah Markus 7:24-30 yang oleh LAI diberikan judul “Perempuan Siro-Fenisia yang percaya” dan aktifitas penginjilan yang dilakukan oleh C.L.Coolen di Ngoro dan J.Emde di Surabaya Jawa Timur adalah dialektika antara Yahudi dan Yunani atau Belanda (NZG) dengan Jawa Timur (Indonesia), yang diidentikan dengan hubungan antara yang superior dan inferior. Yesus yang memiliki identitas superior melabeli perempuan Siro-Fenisia dengan sebutan anjing, demikian juga para penginjil yang “diberikan kuasa” mengganti nama-nama orang Jawa Timur dengan nama-nama “yang lebih baik” – nama-nama Kristen.
Resistensi yang dilakukan oleh perempuan Siro-Fenisia dan tokoh Coolen sendiri oleh dominasi zending Belanda semakin melegitimasi sifat superioritas bangsa kolonial. Karenanya untuk keluar dari konstruksi identitas yang lebih dalam, perempuan Siro-Fenisia, demikian juga GKJW membutuhkan keyakinan akan jatidiri dan kepercayaan diri untuk dapat meraih mimpi lepas dari stereotype inferior dan lemah, untuk meraih kesetaraan dan kesejajaran dengan yang superior.***

Daftar Pustaka

Akkeren, Philip van, Dewi Sri dan Kristus: sebuah kajian tentang gereja pribumi di Jawa Timur. Jakarta: BPK-GM, 1994.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. 1997.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. 1997.
Huang Po Ho, No Longer a Stranger: Toward the construction of contextual theologies. Tiruvalla: CSS Books. 2007.
Pamungkas, Arie Setyaningrum,  “Memetakan Lokasi bagi ‘Politik Identitas’ dalam
Wacana Politik Poskolonial
” pernah dimuat dalam “Jurnal Mandatory IRE, 2005” (Artikel dari Internet).
Sinaga, Martin Lukito, Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam Masyarakat Sipil. Yogyakarta: LkiS, 2004.
Sir, Handoyomarno, Benih Yang Tumbuh VII. Malang: GKJW – Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja di Indonesia, 1975.
Song, C.S., Sebutkanlah Nama-Nama Kami, Jakarta:BPK-GM, 2004.



[1] Penulisan Greja Kristen Jawi Wetan yang kemudian disingkat GKJW mengacu pada Tata dan Pranata GKJW, bagian  Tata Gereja bab 1 pasal 1 dan 2. (Tata dan Pranata GKJW, 1996. Hal. 4).
[2] Jemaat Sidomulyo  merupakan Jemaat (Gereja) yang berada di wilayah Kabuapeten Jember bagian selatan. Daerah ini merupakan salah satu sentra pertanian pangan (padi dan jagung) dan tanaman industri (tembakau) yang menjadi andalan pendapatan Kabupaten Jember. Ia berada lebih kurang 3 KM utara pantai Watu Ulo, Ambulu – Jember. Sidomulyo adalah pedukuhan yang memiliki penduduk hampir seluruhnya beragama Kristen Protestan (GKJW).
[3] Ho, Huang po, No Longer a Stranger: Toward the construction of contextual theologies. Tiruvalla: CSS Books. 2007. 32.
[4] Laura E. Donaldson, Postcolonialism and Biblical Rading: An Introduction. Dalam Martin Lukito Sinaga, Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam Masyarakat Sipil. Yogyakarta: LkiS, 2004, 13.
[5] Ashcroft, et al., Key Consepts in Post-Colonial Studies. Dalam Martin L. Sinaga, ibid, 13.
[6] Yusak B. Setyawan, Postcolonial Hermeneutics. Bahan kuliah Semester Antara 2011/2012, 20
[7] Informasi lebih lengkap tentang keduanya dapat dibaca dalam  Handoyomarno Sir, Benih Yang Tumbuh VII. Malang: GKJW – Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja di Indonesia, 1975; Philip van Akkeren, Dewi Sri dan Kristus: sebuah kajian tentang gereja pribumi di Jawa Timur. Jakarta: BPK-GM, 1994.
[8] Philip van Akkeren, Dewi Sri dan Kristus: sebuah kajian tentang gereja pribumi di Jawa Timur. Jakarta: BPK-GM, 1994. 107-108.
[9] Tirus, menurut Herodotus didirikan kira-kira pada tahun 2.700 sM. Pernah menjadi daerah koloni Mesir dan setelah kejayaan Mesir pudar ia merdeka. Pada tahun 803 sM, harus membayar upeti kepada Adad Nirari III, raja Asyur, akhirnya jatuh bersama Samaria ke tangan Sargon II tahun 722 sM.
Pada zaman Iskandar Agung, tahun 332 sM Tirus mengalami banyak kehilangan  dan kemudian masa Herodes I, ia membangun kuil utama yang masih berdiri pada saat Yesus mengunjungi daerah tersebut. Dan Ia menyebut Tirus sebagai kota kafir yang akan memikul hukuman (Matius 11:21-22; Lukas 10:13-14). (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II, 1997. 484-485.
[10] Umumnya di daerah Timur Tengah, anjing pada dasarnya adalah binatang pemakan bangkai; dan kendati anjing sangat berguna untuk menghabiskan hidangan yang terbuang, pada kodratnya anjing adalah kotor dan merupakan pembawa penyakit, justru tak dapat dijamah tanpa yang menjamahnya menjadi najis. (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, 1997. 54).
[11] Bandingkan Filiphi 3:2
[12] Tirus (dan Sidon), pada zaman Perjanjian Baru merupakan salah satu wilayah propinsi kekaisaran Romawi.
[13] Arie Setyaningrum Pamungkas,  “Memetakan Lokasi bagi ‘Politik Identitas’ dalam
Wacana Politik Poskolonial
” pernah dimuat dalam “Jurnal Mandatory IRE, 2005” (Internet).
[14] C.S. Song, Sebutkanlah Nama-Nama Kami, Jakarta:BPK-GM, 2004. 7.
[15] C.S. Song, Sebutkanlah Nama-Nama Kami, 11. Yang bergaris bawah tambahan penulis.

Minggu, 04 Desember 2011

GAMBARAN YESUS ASLI


Yesus bagi Orang Non-Religius
(John Shelby Spong, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008)
(Tinjauan terhadap John Shelby Spong, hal. 161 - 243)

Apa yang dilakukan John Shelby Spong dalam upaya mencari gambaran Yesus asli adalah sebuah cara dan kesadaran baru untuk membicarakan dan menyelidiki pengalaman Alkitab. Menurutnya, sampai dengan sekarang ini tidak sedikit tidak sedikit tokoh-tokoh pembaharu, pemikir teologi baik di kalangan Katolik maupun Protestan diancam oleh rasa ketakutan. Takut menerima konsekuensi dari tindakan berpikirnya yang “kontroversial” yang berbeda dengan pemikiran gereja sebagai sebuah lembaga keagamaan.
Kekristenan dan Katolik sekarang lebih memilih untuk mengambil tidak bersentuhan dengan situasi masa kini, mereka lebih tradisional, pemikiran dan teologinya lebih bertahan, lebih menyerang dan lebih histeria.
Untuk memahami Yesus asli (menurut Spong) harus masuk kedalam pengalaman periode lisan sejarah kekristenan. Kurun waktu sebelum ingatan akan Yesus dituliskan oleh para pengikut dan murid-murid-Nya.  Disanalah kita mencari Yesus yang melampaui Kitab Suci, melampaui kredo, melampaui doktrin, melampaui dogma dan melampaui agama itu sendiri. Dalam konteks dan traidisi inilah dipahami dalam ingatan para pengikut-Nya, Yesus adalah Jalan menuju kepenuhan dan keutuhan kehidupan.
Jika dipahami dengan seksama Alkitab Kristen yang menceritakan tentang Yesus, kisah Yesus yang ditulis oleh para penulis Injil selalu mengaitkannya dengan akar keyahudian. Apa yang dikerjakan dan dilayankan oleh Yesus pada masa hidup-Nya ke-empat Injil menekankan keterkaitan Yesus dengan pusat religius bangsa Yahudi, yaitu Sinagoge dan Bait Allah. Hal ini dengan jelas diuraikan dalam tulisan-tulisan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Misal: (Setelah dibabptis, Yesus) masuk ke dalam rumah ibadat (= Sinagoge) dan mengajar. (Mark. 1:21; lihat juga 6:2). Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakab Injil Kerajaan Allah (Mat. 4:23; lihat juga, 12:9; 13:54). Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia (Lukas 4:15; lihat juga, 6:6; 13:10). Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat (Yoh. 6:59).
Lebih lanjut Lukas mengsahkan kebiasaan yang dilakukan oleh Yesus dengan mengajar orang banyak di pusat keagamaan Yahudi – Sinagoge dan Bait Allah – dilanjutkan oleh para pengikut-Nya. Petrus, setelah peristiwa Pentakosta berkhotbah di Yerusalem sebagai pusat kegiatannya adalah Bait Allah (Kisah 3:11-26). Dan, Paulus berulangkali hadir di Sinagoge pada hari Sabath dan mengajar tentang Yesus (Kisah 13:14; 14:1; 17:10; 18:4, 19).
Hal ini menandakan dengan kuat bahwa sebelum Injil ditulis Yesus sudah ditafsirkan melalui Kitab Suci Iberani dan dalam proses penafsiran ini kisah Yesus dibentuk oleh kisah Yahudi. Artinya, dalam Sinagoge-lah kisah Yesus diingat dan dibentuk selama periode lisan. Sehingga, sekali lagi untuk memahami gambaran Yesus asli kita perlu menempatan diri dalam dunia Yudea abad pertama.
Untuk memahami dunia Yudea, termasuk didalamnya liturgi Sinagoge yang secara pasti membentuk ingatan Kristen, bisa berangkat dari tekstual liturgi Sinagoge yang terdapat dalam Kisah 13:13-16. Dalam tradisi Sinagoge, liturgi yang ada diawali dengan pembacaan Hukum Taurat, ke-lima kitab Musa Kejadian sampai dengan Ulangan. Ini dibaca secara berkelanjutan pada setiap hari Sabath. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Nabi-nabi: pertama, Nabi-nabi terdahulu. Ini meliputi Kitab Yosua, Hakim-Hakim, 1 dan 2 Samuel berakhir 1 dan 2 Raja-Raja. Setelah itu baru membaca Kitab Nabi-Nabi kemudian (dimulai Kitab Yesaya Pertama, Yeremia dan Yehezkiel dan gulungan berikutnya adalah “Kitab 12 Nabi”, yang sering disebut Nabi-Nabi kecil. Bacaan-bacaan diatas diselingi Mazmur pujian dan doa, dilanjutkan dengan khotbah. Dalam liturgi seperti inilah Paulus berkhotbah tentang Yesus yang diawali pada kisah-kisah Alkitab Iberani.
Muncul pertanyaan, bagaimana para murid memahami kisah Yesus? Kisah Yesus yang dituturkan oleh para penulis Injil lebih pada tafsiran-tafsiran lewat kehidupan ibadah orang Yahudi, ketimbang tuturan-tuturan harfiah. Dan kisah Yesus ini beroleh makna hanya pada mereka yang beribadat di Sinagoge dan Bait Allah, sedang diluar tidak. Yang terpenting bagi penulis Injil adalah apa yang Yesus maksudkan dan apa yang mereka percaya telah mereka temukan melalui Yesus.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa keterkaitan hubungan antar Paskah Yahudi dan penyaliban Yesus lebih merupakan hubungan liturgis, ketimbang hubungan historis. Untuk itulah para murid memahami Yesus sebagai Anak domba Paskah yang dalam kalender liturgi Yahudi dikenal sebagai Yom Kippur atau Hari Pendamaian.   Anak domba Paskah dan anak domba Yom Kippur dipandang sebagai yang menawarkan bentuk “keselamatan” melalui penumpahan darah.
Sebagai simbol Yom Kippur Yesus ditafsirkan dalam dua peran, yaitu sebagai domba yang tidak bercacat yang menjadi korban Yom Kippur, sekaligus domba yang menanggung dosa seluruh umat , menjadi kambing hitam. Dalam terang apokaliptik Yahudi, Yesus juga ditafsirkan dalam dua peran sang Mesias. Ia dipandang sebagai “Anak Manusia” surgawi, hakim terakhir dan juga sumber keutuhan kehidupan sekarang ini dalam dunia ini.
Dan masih dalam keterkaitan dengan tradisi suci yang dirayakan dan diingat di Sinagoge, Yesus juga dipahami oleh para murid sebagai: pertama, citra sang “hamba” membungkus ingatan akan Yesus. Yesus digambarkan sebagai hamba yang melampaui batas-batas Yahudi yang membawa keadilan bagi bangsa lain, terang dan keselamatan untuk dunia (Yes. 49:6).  “Hamba” ini harus memberi kemurahan Allah bagi semua orang (Yes. 55:1), membebaskan kehidupan (Yes. 42:7), untuk menyembuhkan orang (Yes. 42:7). Kedua, Yesus disebut sang “gembala”, kadang sang “raja gembala”. Ini adalah upaya penafsiran terhadap Yesus dari sudut pandang pengharapan mesianik tradisional. Sebab, dalam periode lisan dimungkinkan mereka mengembangkan harpan-harapan mesianik yang ditemukan berulang kali dalam Kitab Suci Yahudi dan dalam kesadaran Yahudi untuk menyusun kisah Yesus. Akhirnya, Yesus sejarah, seorang manusia, sungguh-sungguh manusia menjadi semakin kabur ketika kita menyadari kemungkinan bahwa sangat banyak gambaran Yesus dalam Injil-Injil merupakan penafsiran-penafsiran, ketimbang sebagai ingatan para saksi mata mengenai Yesus dalam sejarah. Namun Yesus sebagai sosok dalam sejarah dengan satu dan cara pandang yang lain telah melihat gambaran Alkitab ini lebih pas dan kena.
Tanggapan
Dalam dunia akademis, penalaran yang dilakukan oleh Spong adalah sesuatu yang menarik untuk terus diperdebatkan dalam diskusi-diskusi untuk mencari kebenaran ilmiah. Apa yang dilakukan Spong memang berdasar premis-premis yang sulit terbantahkan. Ia mendasarkan analisanya pada tulisan-tulisan Kitab Suci Kristen. Saya setuju dengan apa yang ditekankan Spong, bahwa untuk mencari dan menemukan gambaran Yesus asli kita harus menyelami, hadir dan terlibat secara langsung dalam tradisi yang membentuk kekristenan. Memahami pemikiran yang berkembang saat itu, pandangan teologi (baca: kebudayaan) yang ada dan kepercayaan masyarakat dimana Yesus pernah ada, hidup dan berkarya bersama dengan murid-murid-Nya. Karena ajaran apapun yang disampaikan oleh Yesus, yang dipahami oleh para murid dan kemudian dituliskan dalam Injil-Injil lepas dari konteks sosial-masyarakat waktu itu. Meskipun disisi lain Yesus dan ajaran-Nya dan tulisan para murid “berusaha” untuk menunjukan ke-perbedaan-nya dengan sejarah yang sudah membentuknya. Tetap terdapat kesinambungan dan ketidaksinambungan antara Yahudi dan Kekristenan yang dihasilkan oleh pengajaran Yesus. Ada kontinyuitas dan diskontinyuitas.
 Bagi saya, catatan yang patut diberikan kepada Spong adalah: pertama, kerja keras yang dilakukan untuk memahami gambaran Yesus asli, yang melampaui Kitab Suci, melampau kredo, melampau doktrin, melampaui dogma dan agama adalah usaha yang patut menerima apresiasi. Upaya Spong ini saya sebut dengan mencari orisinilitas sumber kepercayaan Kristen. Ia ingin menggali Kristen yang asali, karena otentisitas kepercayaan inilah yang penting bagi kehidupan manusia. Bagaimana seseorang dapat beragama secara otentik, tanpa ember-embel yang lain.
Kedua, usaha Spong memahami gambaran Yesus asli, yang melampaui Kitab Suci, melampau kredo, melampau doktrin, melampaui dogma dan agama, jika dipahami secara negatif adalah sesuatu yang jauh lebih konservatif dari apa yang dituduhkan Spong kepada gereja Katolik dan Protestan. Ungkapan Spong “Kekristenan dan Katolik lebih mengambil tindakan yang tidak bersentuhan dengan masa kini, lebih tradisional, lebih bertahan, lebih menyerang dan lebih histeria”, mungkin ia ingin mengatakan gereja sekarang terlalu eksklusif, tetapi disisi lain ia tidak ingin jatuh kepada pemahaman pluralis. Ia ingin menawarkan jalan tengah diantara kedua paham diatas, ekslusifisme dan pluralisme. Dengan catatan bahwa iman kepada Yesus tetap menjadi yang terutama, iman kepada Yesus melampaui agama dan dogma yang ada. Mungkin ini sejalan dengan apa yang disampaikan Karl Rahner, Allah telah menyatakan diri-Nya kepada manusia didalam Yesus, tetapi penyataan Allah dalam Yesus tidak membatasi keselamatan hanya pada agama Kristen saja. Keselamatan bisa terjadi diluar agama Kristen. Tetapi meskipun keselamatan itu bisa terjadi dalam  agama-agama lain, dan dimanapun keselamatan itu terjadi, ia selalu berasal dari Yesus dan dikerjakan oleh Yesus karena Ialah satu-satunya “Jalan dan keselamatan”.
Ketiga, jika asumsi Spong bahwa pembentukan dan ingatan gambaran Yesus asli berasal dari tradisi Sinagoge, tidak demikian menurut saya. Ada hal yang tidak dipertimbangkan dan luput dari analisa Spong. Sumber tulisan-tulisan para murid – Injil-Injil – jelas menguraikan bahwa terjadi hubungan yang tidak baik antara Yesus dan pengikut-Nya dengan “penguasa” tradisi Sinagoge dan Bait Allah. “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia” (Mark. 11:18). “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat . . . . hati mereka sangat jengkel” (Mat. 21:15). “Imam-iman kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu bagaimana harus melakukannya” (Lukas 19:47-48). Pertanyaanya, bagaimana mungkin pengajaran orang yang tidak disukai dan dimusuhi oleh ”penguasa” Sinagoge dan Bait Allah bisa berkembang subur disana? Dari uraian diatas sudah dapat dipastikan bahwa setiap Yesus memberikan pengajaran di Sinagoge, tidak mungkin kesempatan itu diberikan dengan leluasa. Itu artinya, ajaran Yesus tidak mungkin berkembang di Sinagoge dan Bait Allah, meskipun disisi lain kita tidak dapat menampik informasi bahwa Yesus, demikian pula muri-murid-Nya memberikan pengajaran tentang Yesus di Sinagoge dan Bait Allah.
Pasca Yesus disalibkan, sebelum tulisan-tulisan tentang-Nya berkembang, Lukas menghisahkan dengan gamblang ada penganiayaan terhadap orang-orang yang mengikuti Yesus. “Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukan mereka ke dalam penjara kota” (Kisah 5:18). Mereka menyeret Stefanus, salah seorang pengikut Yesus dan melemparinya dengan batu sampai mati (Kisah 7:57-60). Terjadi juga penganiayaan yang hebat terhadap orang-orang yang setia kepada Yesus di Yerusalem (Kisah 8:1-3). Arti dari tulisan ini adalah tidak ada tempat bagi pengajaran tentang Yesus di tempat umum di Yerusalem, apalagi di Sinagoge dan Bait Allah yang menjadi simbol pusat kekuasaan Yahudi. Tulisan ini yang dilupakan oleh Spong, sehingga bagi saya;
Keempat, bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan oleh Spong, bagi saya ingatan tentang Yesus dan konsep yang membentuknya adalah simbol-simbol apokaliptik yang berkembang di kalangan pinggiran. Ingatan tentang Yesus tetap terngiang di telinga “orang banyak”,  yaitu mereka yang lapar, mereka yang terluka, mereka yang sakit, mereka yang lumpuh, mereka yang tuli, mereka yang bisu, mereka yang miskin, mereka yang “dinajiskan”, mereka yang tidak bertempat tinggal dan setiap mereka yang pernah menerima sentuhan cinta kasih Yesus semasa pelayanan-Nya. Ingat, semasa pelayanan-Nya Yesus sangat memperhatian orang-orang miskin, mereka yang mengalami keterasingan dengan sesamanya (misal: orang-orang yang sakit kusta), mereka yang mengalami keterasinan dan keterpisahannya dari lingkungan sosial (misal: pemanggilan Matius pemungut cukai), dan mereka yang mengalami ketakutan dan tekanan kemanusiaan, sehingga hidupnya terbelenggu.
Pemahaman apokaliptik Yahudi yang berkembang subur sebagaimana yang telah diuraikan oleh Spong, Yesus dipahami sebagai Anak domba Allah dalam Yom Kippur  atau Hari Pendamaian; Yesus sebagai “hamba” dan “gembala” yang membawa bangsa Israel keluar dari penderitaan yang mereka alami, justru menurut saya sangat pas dan cocok dengan situasi yang terjadi pada kelas sosial rendahan. Dan ini pula yang sebenarnya ingin ditunjukan oleh para penulis Injil dalam  proses pemilihan para murid yang dilakukan oleh Yesus. Yesus memilih para murid dari kalangan masyarakat “kelas dua” di dunia Yahudi. Dalam masyarakat inilah gambaran Yesus asli berkembang.

Selasa, 29 November 2011

Paulus


Imanuel Teguh Harisantoso
752011043
Laporan Bacaan       :
Buku                          : Rescuing the Bible from Fundamentalism: A Bishop Rethinks the Meaning of Scripture, bab 7-8 (John Shelby Spong, New York: Harper Collins Publisher, 1991)

Paulus adalah seorang Yahudi yang penuh kasih, emosional, lemah, self centered/Percaya diri, dan sekaligus pengikut Kristen yang visioner dan missioner kepada orang-orang diluar Yahudi, sehingga ia hidup pada batas praduga dan permusuhan dalam lintasan perbatasan. Berbeda dengan Yahudi kebanyakan,  sangat isolatif, tidak berbaur dengan kalayak di luar Yahudi dan memegang Taurat sebagai identitas religiusnya.
Dalam pengalaman pribadinya Paulus ingin keluar dari system religius Yahudi yang legalistik dan kaku. Ia membangun struktur yang baru yang berasal dari Yahudi dan terbuka untuk memasukan kemungkinan pada komunitas universal.  Inilah yang dikatakan Spong bahwa ia melihat apa yang dilakukan Paulus dalam perspektif yang berbeda. Ia melihat Paulus ingin membebaskan diri dari historis literalnya dan berbicara dengan kekuatan pada pegalamanya sebagai manusia.
Dalam literatur Perjanjian Baru beberapa Kitab seperti “Surat kepada orang-orang Iberani”, 1, 2 Timotius dan Titus yang disebut dengan surat-surat pastoral dipahami bukan bauh tangan Paulus, melainkan ditulis oleh pengikut-pengikut Paulus setelah kematiannya. Yang diyakini surat-surat Paulus adalah Galatia, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Korintus, Roma, Filemon, Filiphi dan Kolose. Catatan yang diberikan Spong, bahwa Roma pasal enam belas (16) bukan karya orisinil Paulus. Selanjutnya, apa yang kemudian disebut 2 Korintus juga bukan yang berasal dari Paulus.
Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Lukas, banyak menceritakan kisah kehidupan pribadi dan pelayanan Paulus. Itupun dibeberapa tempat bertentantangan dengan kesaksian Paulus sendiri dalam surat-suratnya. Hal ini tidak mengherankan karena Kisah Para Rasul ditulis kira-kira 30-50 tahun setelah Paulus meninggal.
Diuraikan lebih lanjut dalam buku ini, Paulus adalah saksi primer dalam pembentukan literatur atau Alkitab Kristen. Pada saat surat-surat Paulus ditulis belum ada Injil, karena Paulus berada pada masa tradisi lisan kekristenan. Belum ada sumber otoritas pengajaran yang tertulis, karenanya dalam memahami Yesus yang diberitakan oleh Paulus mestinya tidak dengan kacamata Injil, tetapi dalam iman Kristen yang masih primitif. Membaca dalam keunikan pengalaman seseorang dalam sejarah.
Siapakah Paulus? Paulus adalah seorang Yahudi yang lahir di Profinci Cilicia di Asia Kecil. Dalam dunia kuno Tarsus adalah daerah kekuasaan orang Het yang kemudian menjadi pusat kebudayaan Persia. Dan pada masa helenist menjadi kota penting selain Atena dan Alexandria.
Saulus, demikian namanya sebelum berubah menjadi Paulus adalah pengikut Yahudi yang taat, paham betul akan aturan-aturan hukum Taurat sebagai “hukum tertinggi” yang dipegang bangsa Yahudi. Filiphi 3:4-6, mencatat “... disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang ibrani asli, terhadap hukum Taurat aku orang Farisi ....” dan oleh orang tuanya ia memilki kewarganegaraan ganda (sekaligus sebagai warga negara Romawi).
Tetapi disisi lain, Spong menjelaskan kelemahan-kelemahan Paulus berdasarkan tulisan-tulisannya dalam Perjanjian Baru: “Aku saluran, yang dijual dengan dosa. Aku tidak mengenali tindakanku” (Rom. 7:14, 15). “Tidak ada kebaikan padaku, yaitu dalam dagingku. Aku menginginkan apa yang benar tetapi aku tidak dapat melakukannya” (Roma 7:18). “Aku melihat dalam anggota hukum lain pada perang dengan hukum dalam pikiranku dan membuatku memenjarakan hukum dosa yang ada dalam anggotaku” (Rom. 7:23). “Dengan dagingku aku melawan hukum dosa” (Rom 7:25); “Tubuh tidak ditujukan untuk imoralitas tetapi untuk Tuhan” (1 Kor 6:13); “laki-laki yang tidak bermoral berdosa atas badannya” (1 Kor 6:18); “Aku memukul badanku dan menunduk setelah melakukan pengajaran kepada orang lain, aku sendiri sebenarnya didiskualifikasi” (1 Kor 9:27).
Dia memperingatkan, “Jangan gunakan kebebasanmu sebagai kesempatan untuk daging” (Gal. 5:13). “Jangan menggambarkan keinginan pada daging. Karena keinginan pada daging adalah lawan dari jiwa, dan keinginan dalam jiwa adalah lawan dari daging” (Gal. 5:16). Apa yang dihasilkan oleh daging? Bagi Paulus hal ini adalah referensi pada keinginan seksual yang diluar kontrol. Daging menghasilkan perzinahan, kekotoran, ketidakmoralan’ (Gal. 5:23). Ya, ada sebuah daftar pekerjaan yang panjang pada daging dan buah dari jiwa dalam Galatia, tetapi Paulus tidak pernah jauh dari pembahasan mengenai keinginan seksual dan keinginan untuk mengontrol diri.
Lebih lanjut Spong mengatakan, apakah nafsu tersebut? Tidak diragukan lagi dia menganggap Paulus sebagai:
1.      Paulus secara seksual impoten. Teori ini tidak sesuai dengan data. Yang lainnya menunjukkan bahwa Paulus secara seksual mengalami kekerasan seksual pada saat dia kecil dan menjadi konflik yang mendalam dengan emosi ketakutan dan keinginan yang tidak dimobilisasi. Teori ini sedikit lebih baik, tetapi masih meninggalkan akhir yang tidak diketahui dalam rekonstruksi.
2.      Paulus adalah laki-laki homoseksual – gay. Bagi Spong tulisan Paulus dalam 2 Kor. 12:7-9, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” menunjukan kelemahanya sebagai seorang laki-laki dan itu mengarah kepada prilaku yang tidak pantas. Dengan kata lain, gay. Paulus merasa sangat bersalah dan malu, yang menimbulkan  benci pada diri sendiri. Termasuk juga adalah keenggananya kepada perempuan.
3.      Yang lain mengatakan Paulus sakit epilepsy.  Sakit ini membuat Paulus tidak bebas. Dan pemahaman waktu itu sakit epilepsi dianggap sebagai milik iblis, tetapi kadang dimiliki oleh roh asing, bukan penyakit yang konstan. Epilepsi ini juga yang menimbulkan perasaan kasihan, atau ketakutan, remehan atau benci.

Teologi Paulus. Dalam  tulisan ini Spong berpendapat perihal keyakinan dan pemahaman Paulus, yang kemudian disebut dengan teeologi Paulus. Antara lain: Pertama, Kasih Karunia. Kasih tidak mengenal keadaan, meskipun seseorang menganggap dirinya sebagai yang dibenci, pantas mendapat murka atau kutukan masyarakat. Itulah injil Kristus. Bagi Paulus tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan diri dari kasih karunia Tuhan. Paulus adalah pilihan Tuhan. Tuhan yang membenarkan, menerima, mengasihi. Bahkan pembunuh Kristus tidak dikutuk; dan jika mereka tidak, maka Paulus juga tidak. Inilah kasih Yesus, yang mencintai pendosa, mereka yang diasingkan, dan mereka yang mendapatkan kutukan. Yesus adalah agen rekonsiliasi Tuhan yang sebelumnya dianggap tidak dapat direkonsiliasi.
Kedua, Yesus. Siapa Yesus bagi Paulus? Dia adalah agen rekonsiliasi bagi berkat Tuhan. Dia adalah gambaran Tuhan yang tidak tampak. Dia adalah kelahiran pertama pada semua makhluk. Dia diidentifikasikan dengan putra dari seseorang dalam mitologi Yahudi. Dia bertindak bagi Tuhan dalam makhluk. Dia melakukan semua hal bersamaan dan mendobrak kekuatan jahat dengan menjadi kelahiran pertama dari kematian. Sifat ketuhanan ada dalam dirinya sehingga melalui dia Tuhan dapat merekonsiliasi segala sesuatu dan membuat kedamaian dimana terdapat permusuhan (Kol.1:21-22).
Yesus adalah Tuhan bagi Paulus. Adalah manusia special yang hidup melalui tindakan Tuhan dan dimana Tuhan menunjukkan diriNya. Lebih lanjut ia mengatakan Yesus adalah seorang Yahudi yang percaya pada Tuhan dimana keyakinannya ada dalam kehidupanNya, Tuhan mengangkatnya ke langit dalam tindakan untuk mempertahankan dan sebagai cara dalam mengatakan bahwa Tuhan seperti apa yang dilakukan Yesus dan seperti diri Yesus.
Ketiga, Kebangkitan. Ketika berbicara tentang kebangkitan Yesus, sama halnya dengan pengangkatan Yesus ke langit. Bagi Paulus kebangkitan dan kenaikan bukanlah dua tindakan, tetapi satu tindakan. Hal ini terjadi bukan dalam hari ketiga secara literal tetapi pada hari ketiga secara eskatologika, karena diluar waktu dan sejarah. Semua diatas, adalah tindakan Tuhan.
Tanggapan                                                  
Apa yang dilakukan Spong dan pendekatannya tidak hanya menarik untuk didiskusikan, tetapi sekaligus menimbulkan reaksi yang keras dari kaum fundamentalis. Dalam menganalisa Paulus, karya dan pandangan teologinya (menurut saya) ada beberapa hal yang luput – alpha – dari perhatian Spong, padahal ini sangat menentukan hasil akhir analisanya. Memang Spong mengurai berdasarkan tulisan-tulisan Paulus, tentang siapa dan bagaimana pandangan teologi Paulus dan itu memang hampir tidak terbantahkan. Spong hanya mngungkapkan Paulus adalah murid Gamaliel[1]. Pertanyaanya, apakah itu berarti sikap dan pandangan teologi Paulus tentang ke-Yahudi-an dan Hukum Taurat sama dengan gurunya?
Rupanya Paulus banyak dipengaruhi oleh tradisi Syammai (meskipun ia berguru kepada Gamaliel yang notabene penerus tradisi Hillel) yang menuntut untuk dilaksanakannya semua hukum Taurat tanpa cacat. Menurut Kisah 5:34-42, Gamaliel adalah seorang Farisi yang sabar dan toleran. Sedangkan Paulus sebaliknya, ia sangat berbeda dengan gurunya.[2]
Bagi Syammai pelanggaran terhadap satu butir Hukum Taurat berarti melakukan pelanggaran secara keseluruhan. Dan Paulus adalah seorang Yahudi – Farisi – yang berpegang teguh pada Hukum Taurat, sehingga tidak mungkin Paulus yang dididik dalam ketaatan dan kedisiplinan Hukum Taurat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini diyakininya.
Berikutnya, selain dipengaruhi oleh tradisi agama Yahudi yang kuat Paulus juga sangat simpati dan menaruh perhatian  yang besar terhadap filsafat dan kebudayaan Yunani (alam pikiran Helenisme). Aliran stoik dimungkinkan paling serasi dengan Paulus.[3] Karena ketika berada di Tarsus, dia bersahabat dengan para filsuf cynic-stoik yang terkenal, yang biasanya didengar di ujung jalan di Tarsus. Memang tidak ada bukti bahwa Paulus mempunyai kenalan dengan filsuf Yunani dan kepustakaannya. Tetapi G.E. Ladd berpendapat sangat dimungkinkan pemikiran Paulus berasal dari lingkungan Yunani. Ladd menegaskan “gaya” Paulus lebih menyerupai tulisan-tulisan atau pidato-pidato stoa, demikian juga kata-kata yang digunakan, seperti “suara hati” (syneidesis, Roma 2:15), dan tidak pantas (me kathekonta, Roma 1:28). Juga gagasan agama Yunani yang menunjuk pada agama-agama misteri seperti kata “misteri” (mysterion) dan “perfek” (teleios).[4]
Pengaruh filsafat Yunani juga nampak dalam tulisan-tulisan Paulus yang lain, seperti “pergaulan yang buruk merusakan kebiasaan yang baik” (I Kor. 15:33), dan “dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas” (Titus 1:12). “Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:16-17). Pengaruh yang lain juga nampak dalam pemahaman Paulus tentang pengharapan eskatologis, pemahaman tentang “zaman” atau “dunia” (I Tes. 5:1).[5]
Dari uraian diatas artinya, untuk memahami siapa dan bagaimana pandangan teologi Paulus kita tidak cukup hanya memperhatikan tulisan-tulisan Paulus ansih, tetapi juga perlu diperhatikan fakto-faktor atau hal-hal yang mempengaruhi pemikiran Paulus waktu itu. Dengan ddemikian kita dapat memahami sedekat mungkin maksud dari tulisan-tulisan Paulus. Ini tidak dilakukan oleh Spong. Inilah menurut saya kelemahan Spong.


[1] Gamaliel adalah cucu dan pengganti Rabi Hillel (pendiri tradisi Hillel) yang memiliki pandangan lebih progresif dalam melihat Hukum Taurat.
[2] Imanuel TH., “Eskatologi Paulus dalam Surat I Tesalonika” (Skripsi S1, UKSW, 2002), 34.
[3] J. Drane. “Memahami Perjanjian Baru” dalam Imanuel TH., 2002. 52.
[4] G.E. Ladd, “A Theology of The New Testament” (Guildfort – London: Letterworth Press, 1975), 360-361.
[5] (Imanuel TH., 2002), 53-54

KONSULTASI NASIONAL PENGURANGAN RISIKO BENCANA (PRB) & MITIGASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM (MAPI)

Sekitar bulan September dan Oktober tahun ini (2025), rasanya udara sudah semakin panas. Banyak orang mengatakan semakin panas, iklim su...